Rabu, Februari 8, 2023

Sebelum Kartini Ada Ratu Kalinyamat, Perempuan Tangguh dan Visioner dari Jepara

Opini

(DITUTUP) PENDAFTARAN KEPESERTAAN KONGRES ULAMA PEREMPUAN INDONESIA (KUPI) KE-2

PENDAFTARAN TELAH DITUTUP PADA 15 OKTOBER 2022 pukul 23.59 WIB Untuk informasi pengumuman akan diumumkan. Terimakasih Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI-2) terdiri dari dua kegiatan utama:...

Ketentuan Peserta Kongres KUPI 2

Ketentuan Peserta untuk mendaftar: Bersepakat dengan Visi dan Misi KUPI. Lihat Visi dan Misi KUPI disini Memiliki hidmah keulamaan, kemanusiaan, kebangsaan dan atau keumatan...

Jika berbicara tentang sosok pahlawan perempuan dari Jepara, kita pasti akan langsung mengacu kepada R.A. Kartini, tokoh perempuan Jawa yang berjuang untuk emansipasi dan kesetaraan perempuan di masa kolonial Belanda.

Namun, beberapa abad sebelumnya terdapat seorang pejuang perempuan tangguh dan cerdas bernama Ratu Kalinyamat yang berhasil membawa Jepara mencapai kejayaan di abad ke 16.

Bagi Jepara, nama besar Ratu Kalinyamat telah melekat dalam memori kolektif masyarakat dan telah menjadi legenda dalam khasanah historiografi Jawa.

Mengenal Sang Rainha de Japora

Dalam beberapa sumber historis, Ratu Kalinyamat memiliki berbagai julukan, misalnya dalam dokumen sejarah Portugis berjudul De?cadas da Asia yang ditulis oleh Diogo do Couto, Ratu Kalinyamat diberikan gelar Senhora Rainha de Japora poderosa e rica yang berarti ratu penguasa yang kaya raya dari Jepara.

Sementara, dalam sumber sejarah lokal berjudul Hikayat Hasanudin, ia diberi julukan sebagai Ratu Pajajaran meskipun gelar tersebut tidak serta merta ia pernah memerintah Pajajaran.

Terlahir dengan nama Retna Kencana, Ratu Kalinyamat merupakan keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dari Raden Patah (Raja Demak pertama). Ayahnya, Sultan Trenggana, adalah anak dari Raden Patah yang juga Sultan Demak III (1505-1521) (M.C. Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern).

Ratu Kalinyamat menikah dengan Sultan Hadirin, putera Sultan Ibrahim dari Aceh yang saat itu menjabat sebagai Bupati Kalinyamat. Akibat kemelut politik dan perebutan kekuasaan di Demak, suami Ratu Kalinyamat dibunuh oleh Adipati Jipang Panolan, Arya Penangsang yang memberontak terhadap Kerajaan Demak.

Setelah kepergian suaminya dan Arya Penangsang dibunuh pada tahun 1549 oleh Danang Sutawijaya (anak angkat dari Pangeran Hadiwijaya), Ratu Kalinyamat kemudian dinobatkan menjadi penguasa Jepara menggantikan suaminya.

Ratu Kalinyamat dinobatkan menduduki puncak tahta pada 10 April 1549, bertepatan dengan candra sengkala Trus (Karya Titaning Bumi). Selama masa pemerintahannya (1549-1579), Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaan di abad ke 16.

Aktor utama di balik poros maritim Nusantara

Kebesaran nama Ratu Kalinyamat dalam catatan sejarah nusantara tidak dapat dilepaskan dari perannya dalam menjadikan Bandar Jepara menjadi poros maritim Nusantara terbesar di Asia Tenggara.

Dalam mengembangkan Jepara sebagai pusat perniagaan yang maju pesat, Ratu Kalinyamat menyusun berbagai strategi di berbagai sektor (ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan) dan menjalin hubungan diplomatis dengan berbagai kerajaan di nusantara.

Letak wilayah Jepara yang strategis sebagai jalur perdagangan dari Timur Indonesia ke Barat Jawa hingga ke Madagaskar membuat Ratu Kalinyamat tergerak untuk menggali potensi kekayaan alam Jepara seperti beras, rempah-rempah, serta seni ukir untuk dijual ke berbagai wilayah nusantara dan Asia Tenggara.

Selain itu, dengan memanfaatkan kayu jati sebagai komoditi unggulan, Ratu Kalinyamat juga mengembangkan industri galangan kapal di Bandar Jepara, keberhasilannya dituliskan dalam buku Literature of Java karangan Dr Th Pigeaud yang mengatakan bahwa industri galangan kapal Jepara merupakan yang terbaik dan terbesar di kawasan Asia Tenggara dan produknya pun sangat diminati oleh bangsa-bangsa Eropa.

Pemikirian Ratu Kalinyamat berikutnya adalah strategi pertahanannya yang dibangun melalui armada militer kelautan, saat itu ia secara visioner sudah berpikir bahwa ekonomi yang tinggi dan berkembang pesat harus diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat.

Oleh karena itu, untuk melindungi Jepara dan aktivitas perdagangan berskala global ini, Ratu Kalinyamat membangun sistem pertahanan dengan membangun armada kelautan yang kuat untuk mengamankan Bandar Jepara dari kemungkinan serangan bangsa Portugis.

Sejarahwan asal Belanda, HJ de Graaf dalam tulisannya yang berjudul Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa menyebutkan bahwa di era pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara sangatlah superior dalam aspek militer.

Beberapa kerajaan baik di Nusantara maupun di Asia Tenggara, seperti Kesultanan Johor dan Aceh Darussalam, Kerajaan Hitu meminta bantuan militer kepada Ratu Kalinyamat untuk melawan penjajahan Portugis.

Pemikiran Ratu Kalinyamat dalam aspek pertahanan wilayah juga menarik untuk dicermati karena pada zaman itu ia sudah berpikir tentang sistem pertahanan dunia.

Jika dikaitkan dengan konteks Indonesia modern dan juga konteks global gagasan ini sangatlah luar biasa karena jauh sebelum aliansi militer NATO (1949), dan pakta-pakta pertahanan dunia lainnya, Ratu Kalinyamat ternyata sudah melakukannya.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sudah memiliki wawasan dan pengetahuan yang cemerlang tentang sistem pertahanan dunia di konteks kemaritiman.

Semangat anti-kolonialisme

Selain kemampuan menjadikan Jepara sebagai poros maritim, Ratu Kalinyamat juga dikenal dengan semangat anti kolonialismenya sehingga membuat sosoknya sebagai De Kange Dame (perempuan gagah berani) disegani oleh penjajah Portugis.

Bukti perlawanannya terhadap penjajahan Portugis dapat terlihat dari beberapa ekspedisi dan agresi militer yang dilancarkannya untuk membebaskan beberapa wilayah dari kolonialisme.

Pada 1550 Ratu Kalinyamat membantu Sultan Johor melawan Portugis di Malaka. Dalam serangan tersebut, Ratu Kalinyamat bersama sekutu membentuk armada laut dengan sekitar 200 kapal yang mengangkut 1000 orang prajurit.

Sementara itu, kronik berjudul A Capitania de Ambonio (1565-1579) dalam Documentacao para a Historia das Missoes do Padro Portugues de Oriente: Insulindia juga menuliskan bahwa Ratu Kalinyamat pernah menyerang Portugis untuk membantu Kerajaan Islam Hitu pada 1565.

Kemudian pada Oktober 1574, atas permohonan kesultanan Aceh Darussalam Ratu Kalinyamat kembali menyerang Portugis.

Dalam Asia Portuguesa yang ditulis Manuel Faria e Sousa, disebutkan bahwa dalam serangan militer di Aceh Darussalam, Ratu Kalinyamat membawa sekitar 15.000 prajurit, 80 kapal besar, dan lebih dari 220 perahu.

Meskipun semua ekspedisi militer Ratu Kalinyamat untuk melawan Portugis mengalami kegagalan yang diakibatkan oleh ketimpangan teknologi persenjaataan, semangat anti kolonialisme yang dimiliki layak untuk apresiasi.

Visioner yang melampaui zamannya

Melalui visi kepemimpinan dan tindakannya yang melampaui zamannya, Ratu Kalinyamat telah membuktikan kepada dunia bahwa dalam sejarah peradaban kita masyarakat Nusantara telah memiliki wawasan yang luas (terutama tentang kemaritiman) dan penguasaan pengetahuan yang diakui sekaligus disegani oleh bangsa-bangsa lain.

Kontribusi Ratu Kalinyamat kepada Nusantara tentunya layak untuk diberikan penghargaan oleh pemerintah sehingga tidak berlebihan untuk memberikan gelar pahlawan nasional disematkan kepadanya.

Belajar dari perjuangan dan pemikiran Ratu Kalinyamat, pemerintah RI seharusnya dapat mempelajari banyak hal, tertuma dalam membangun Indonesia sebagai negara maritim yang unggul. Sebuah negara besar juga seharusnya mampu menjadi bangsa yang setia dan menghargai sejarah peradaban bangsa sendiri. []

Penulis : Agnes Setyowati

Sumber : Sebelum Kartini Ada Ratu Kalinyamat, Perempuan Tangguh dan Visioner dari Jepara (Kompas.com)

 

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terbaru

ArabicEnglishIndonesian