Kamis, Februari 9, 2023

Rekam Jejak Ulama Perempuan dalam Membangun Bangsa

Opini

(DITUTUP) PENDAFTARAN KEPESERTAAN KONGRES ULAMA PEREMPUAN INDONESIA (KUPI) KE-2

PENDAFTARAN TELAH DITUTUP PADA 15 OKTOBER 2022 pukul 23.59 WIB Untuk informasi pengumuman akan diumumkan. Terimakasih Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI-2) terdiri dari dua kegiatan utama:...

Ketentuan Peserta Kongres KUPI 2

Ketentuan Peserta untuk mendaftar: Bersepakat dengan Visi dan Misi KUPI. Lihat Visi dan Misi KUPI disini Memiliki hidmah keulamaan, kemanusiaan, kebangsaan dan atau keumatan...

Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan rekam jejak bagaimana perempuan dan ulama perempuan berkiprah sangat besar dalam membangun keislaman di Indonesia.

Oleh sebab itu, Putri sulung KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan bahwa hal ini yang Indonesia butuhkan, yaitu bagaimana, aktor-aktor perempuan tidak dipandang sebagai aktor tambahan, sampingan atau aktor pelengkap.

“Tetapi, bagaimana perempuan itu harus kita perlakukan sebagai aktor yang setara kekuatanya dengan laki-laki. Bahkan aktor perempuan bisa dimanfaatkan potensi dasarnya untuk membangun bangsa,” kata Alissa Wahid, saat memaparkan materi, pada KUPI Talks 2, Rabu, 16 Oktober 2022.

Maka dari itu, Alissa menyatakan, perempuan sebagai aktor yang hebat ini, justru jangan kembali terpinggirkan, tersubordinasikan, bahkan terlemahkan.

“Jadi bagaimana kemudian sebuah masyarakat itu menempatkan perempuan tidak menjadi pihak yang tersubordinasi, terpinggirkan bahkan menjadi korban,” jelasnya.

Selain itu, Alissa juga menceritakan bagaimana rekam jejak kasus para perempuan di Afghanistan setelah Taliban berkuasa. Bagaimana kemudian Taliban betul-betul membatasi ruang-ruang bagi perempuan di Afghanistan.

Sama halnya di Afghanistan, Alissa juga menyebutkan di Indonesia juga demikian, yaitu bagaimana melihat angka kekerasan terhadap perempuan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pelecehan seksual terus meningkat.

“Nah meningkatnya karena apa ? ini salah satu faktornya adalah karena meningkatnya ultra konservatisme dalam beragama,” jelasnya.

“Jadi kita perlu memastikan bahwa perempuan tidak menjadi victim atau korban dari ekstremisme beragama di Indonesia,” tandasnya.

Sumber: Rekam Jejak Ulama Perempuan dalam Membangun Bangsa (Mubadalah.id)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terbaru

ArabicEnglishIndonesian