Kamis, Februari 9, 2023

Menilik Pondok Hasyim Asy’ari, Pesantren Berbasis Kesetaraan yang Jadi Tuan Rumah KUPI II

Opini

(DITUTUP) PENDAFTARAN KEPESERTAAN KONGRES ULAMA PEREMPUAN INDONESIA (KUPI) KE-2

PENDAFTARAN TELAH DITUTUP PADA 15 OKTOBER 2022 pukul 23.59 WIB Untuk informasi pengumuman akan diumumkan. Terimakasih Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI-2) terdiri dari dua kegiatan utama:...

Ketentuan Peserta Kongres KUPI 2

Ketentuan Peserta untuk mendaftar: Bersepakat dengan Visi dan Misi KUPI. Lihat Visi dan Misi KUPI disini Memiliki hidmah keulamaan, kemanusiaan, kebangsaan dan atau keumatan...

Salah satu rangkaian acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) II akan digelar di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari, Bangsri, Jepara pada 23-26 November 2022.

Pesantren yang terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk di kecamatan Bangsri ini telah siap menjadi tuan rumah kegiatan akbar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) kedua dan siap menyambut para calon peserta.

Sama seperti pesantren pada umumnya, Pesantren yang kini dipimpin oleh Nyai Hj Aizzah Amin Sholeh dan putra-putranya, salah satunya KH Nuruddin Amin dan Nyai Hj Hindun Annisah ini mengajarkan fiqih, hadits, dan kitab-kitab lain.

Namun, sejak awal berdiri pesantren ini memiliki kekhasan tersendiri dengan menerapkan kurikulum berbasis kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan anak.

“Kurikulum ini pertama kali diterapkan pada tahun 2000, tepatnya saat saya dipercaya mengurus pesantren ini dengan suami, KH Nuruddin Amin,” kata Nyai Hindun, dalam keterangannya, Selasa (22/11/2022).

Diterapkannya kajian gender sebagai kurikulum belajar ini berawal dari pengalamannya di masa lalu. Pengalaman yang ia alami itu berakar dari pemahaman keliru terhadap fiqih. “Pengalaman waktu pesantren dulu, saya merasa tersampingkan sebagai santri perempuan,” terangnya.

Tak ingin terulang, di pesantrennya, perempuan dan laki-laki diperlakukan sama. Beruntung suaminya medukung ide soal kajian gender untuk diterapkan di pesantrennya tersebut. Dukungan itu menjadi salah satu faktor keberhasilan pesantren Hasyim Asy’ari menjadi rujukan kesetaraan gender.

“Di sini, di Pesantren Hasyim Asy’ari, santri putra dan putri mendapat akses yang sama di segala bidang. Bahkan aturan untuk keluar pondok pun, tidak akan dibeda-bedakan,” tegas ibu lima anak ini.

Di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari ini juga ada Pers Pesantren, Majalah Suara Hasyim Asy’ari untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah/SLTP dan Majalah Koma untuk tingkat Madrasah Aliyah/SLTA. Keduanya terbit sejak 2005 silam.

Nyai Hindun berharap dari pesantrennya lahir santri-santri putri yang andal di berbagai bidang namun tetap dilandasi pengetahuan agama yang berpegang pada kesetaraan gender.

Jadi tuan rumah KUPI II

Sementara, Nyai Hj Aizzah Amin Sholeh mengatakan perkembangan Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari adalah buah dari kerja ikhlas di masa dulu. Saat harus mencari murid secara door to door hingga akhirnya masyarakat mengakuinya.

“Gelaran KUPI tahun ini tentu akan jadi acara yang membanggakan bagi pondok kami. Luar biasa. Itu ulamanya yang datang tidak hanya dari Indonesia tapi juga Asia,” kata Nyai yang karib disapa Umi itu bersemangat.

Sebagai informasi, pesantren Hasyim Asy’ari telah menjadi rujukan banyak pihak mengenai kesetaraan gender, lintas iman, dan keberagaman. Hal ini terbukti dengan jaringan luas yang yayasan miliki dan kunjungan dari banyak kalangan.

Sumber: nu.or.id

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terbaru

ArabicEnglishIndonesian